Menjual produk di marketplace seperti Tokopedia, Shopee, dan TikTok Shop telah menjadi strategi umum bagi banyak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Platform ini awalnya menawarkan akses pasar yang luas dan kemudahan operasional. Namun, seiring waktu, muncul berbagai tantangan yang membuat keuntungan berjualan di marketplace tidak lagi sejelas dulu. Artikel ini akan membahas apa saja yang bukan lagi keuntungan utama menjual produk di marketplace, serta konsep dan jenis marketplace itu sendiri.
Konsep Dasar Marketplace dan Jenisnya
Marketplace adalah platform pihak ketiga yang mempertemukan penjual dan pembeli dalam satu wadah digital. Penjual dapat mengunggah produk mereka, sementara pembeli dapat mencari dan membeli berbagai barang dari berbagai penjual yang berbeda. Keunggulan utama marketplace di awal kemunculannya adalah kemampuannya mendemokratisasi ekonomi, memungkinkan produk dari desa menjangkau kota besar, bahkan lintas pulau.
Secara umum, marketplace dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan model bisnis dan fokusnya:
- Marketplace B2C (Business-to-Consumer): Penjual adalah bisnis dan pembeli adalah konsumen akhir. Contoh populer di Indonesia adalah Shopee, Tokopedia, dan Blibli.
- Marketplace C2C (Consumer-to-Consumer): Konsumen dapat menjual barang kepada konsumen lain. Contoh historisnya adalah FJB Kaskus.
- Marketplace B2B (Business-to-Business): Menghubungkan bisnis dengan bisnis lain, seringkali untuk pembelian dalam jumlah besar atau bahan baku.
- Marketplace Vertikal: Fokus pada kategori produk tertentu, misalnya fashion, kerajinan tangan, atau produk digital.
- Marketplace Horizontal: Menawarkan berbagai macam produk dari berbagai kategori, seperti Tokopedia atau Shopee.
Evolusi Biaya di Marketplace: Dari Murah Menjadi Beban
Beberapa tahun lalu, marketplace dielu-elukan sebagai "jalan pintas" bagi UMKM untuk naik kelas. Komisi yang dikenakan sangat rendah, bahkan mendekati nol. Tokopedia misalnya, hanya mengenakan sekitar 0,5–1,5%, sementara Shopee di kisaran 1–2% untuk penjual biasa. Subsidi ongkos kirim juga digelontorkan besar-besaran, menandai fase "bakar uang" untuk mengakuisisi pengguna.
Namun, optimisme itu mulai retak. Memasuki tahun 2022–2023, biaya mulai naik. Komisi berada di kisaran 2,5–8% untuk Shopee dan sekitar 5–8% untuk Tokopedia, tergantung kategori produk. Titik balik terjadi pada 2024, di mana marketplace secara terbuka menaikkan biaya layanan. Pada periode 2025–2026, biaya tidak hanya meningkat, tetapi juga berlapis. Komisi dasar bisa mencapai 2,5–10%. Program gratis ongkir menambah sekitar 4–4,5%. Biaya promo dan kontribusi diskon bisa mencapai 1–2%. Belum lagi biaya iklan yang secara praktis menjadi kebutuhan, berkisar 3–5% dari penjualan.
Jika dijumlahkan, total biaya yang harus ditanggung pelaku UMKM bisa mencapai 15% hingga 20% dari harga jual. Dalam beberapa skema, bahkan bisa lebih tinggi jika menggunakan affiliate atau promosi tambahan. Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UKM Indef, Izzudin Al Farras Adha, mencatat bahwa take rate yang dibebankan marketplace kepada seller sudah mencapai sekitar 18% dari nilai penjualan, dengan sedikitnya sembilan jenis potongan biaya, dan setelah kenaikan terbaru pada Mei 2026, angkanya telah melampaui 20% ekonomi.bisnis.com.
Berikut yang Bukan Lagi Keuntungan Menjual Produk di Marketplace Adalah:
Dengan memahami evolusi biaya dan dinamika marketplace saat ini, kita dapat mengidentifikasi beberapa hal yang bukan lagi keuntungan utama, atau bahkan menjadi kerugian, bagi UMKM yang berjualan di marketplace:
1. Margin Keuntungan yang Besar dan Stabil
Ini adalah poin paling krusial. Dulu, marketplace menawarkan komisi rendah yang memungkinkan UMKM mendapatkan margin keuntungan yang sehat. Namun, dengan kenaikan komisi, biaya layanan, biaya program gratis ongkir, biaya promo, dan biaya iklan yang kini hampir wajib, total potongan bisa mencapai 15-20% atau bahkan lebih dari harga jual money.kompas.com. Hal ini secara signifikan mengikis margin keuntungan, membuat UMKM kesulitan untuk mendapatkan profit yang layak.
2. Kontrol Penuh atas Data Pelanggan
Di marketplace, data pelanggan biasanya terbatas. Anda tidak mendapatkan alamat email atau nomor telepon pelanggan secara langsung, sehingga sulit untuk membangun hubungan jangka panjang atau melakukan remarketing secara efektif resources.rework.com. Pelanggan dianggap sebagai "pelanggan marketplace", bukan "pelanggan Anda" resources.rework.com. Ini membatasi Customer Lifetime Value (LTV) dan membuat Anda bergantung pada platform untuk semua interaksi dengan pelanggan. Padahal, database pelanggan adalah aset paling berharga bagi bisnis, memungkinkan personalisasi, program loyalitas, dan komunikasi langsung.
3. Branding dan Identitas Toko yang Kuat
Meskipun marketplace memungkinkan Anda memiliki "toko" sendiri di platform mereka, kemampuan untuk membangun branding dan identitas yang unik sangat terbatas. Desain toko, pengalaman pengguna, dan alur pembelian semuanya ditentukan oleh marketplace. Ini membuat produk Anda sulit menonjol di tengah lautan kompetitor yang juga berjualan di platform yang sama. Konsumen cenderung mengingat marketplace tempat mereka berbelanja, bukan toko spesifik Anda.
4. Fleksibilitas dalam Strategi Pemasaran dan Promosi
Marketplace memiliki aturan ketat mengenai bagaimana Anda dapat berpromosi dan berinteraksi dengan pelanggan. Anda terikat pada fitur promosi yang disediakan platform, yang seringkali berbayar dan kurang fleksibel dibandingkan strategi yang bisa Anda terapkan di toko sendiri. Misalnya, kampanye email marketing yang personal atau program loyalitas yang disesuaikan sulit dilakukan tanpa data pelanggan yang memadai.
5. Kebebasan Penuh dalam Menentukan Harga Jual
Dengan biaya komisi dan potongan lainnya yang terus meningkat, penjual seringkali harus menaikkan harga produk mereka di marketplace untuk menutupi biaya tersebut agar tetap mendapatkan margin. Ini dapat membuat harga produk Anda kurang kompetitif dibandingkan jika Anda menjualnya melalui kanal lain yang biayanya lebih rendah, seperti website toko online sendiri.
6. Ketergantungan yang Rendah pada Platform
Menjual hanya di marketplace menciptakan ketergantungan yang tinggi pada platform tersebut. Perubahan algoritma, kebijakan, atau struktur biaya marketplace dapat secara langsung dan signifikan memengaruhi penjualan dan profitabilitas Anda. Jika marketplace mengalami masalah, toko Anda pun ikut terdampak. Ini adalah risiko besar bagi kelangsungan bisnis jangka panjang.
Membangun Kemandirian Bisnis di Era Marketplace
Meskipun marketplace tetap menjadi kanal penting untuk akuisisi pelanggan baru dan meningkatkan visibilitas, fokus berlebihan pada marketplace tanpa membangun kanal penjualan sendiri dapat mengikis keuntungan dan menghambat pertumbuhan jangka panjang. Solusi yang semakin relevan adalah mengintegrasikan penjualan di marketplace dengan website toko online sendiri, seperti yang dibangun dengan Shopify.
Di sinilah Swivel hadir sebagai solusi. Swivel adalah platform loyalty & e-commerce CRM yang bertujuan mengubah pembeli marketplace anonim (dari Tokopedia, Shopee, TikTok Shop, Blibli) menjadi pelanggan loyal di toko Shopify Anda sendiri. Dengan Swivel, Anda dapat mengimpor pesanan dari marketplace, lalu pelanggan melakukan klaim untuk membuka identitas mereka dan mendapatkan poin, yang kemudian dapat ditukar dengan reward. Proses ini, dari Import → Claim → Reward, membantu Anda membangun database pelanggan langsung tanpa melanggar privasi, karena pelanggan sendiri yang memilih untuk berbagi data mereka.
Swivel adalah satu-satunya CRM di Indonesia yang secara spesifik memecahkan masalah "data customer ter-mask" di marketplace. Dengan konektor native ke berbagai marketplace besar di Indonesia dan Shopify, Anda dapat mengkonsolidasikan data dari semua channel ke satu dashboard.
Tidak hanya itu, Swivel juga membantu Anda menghitung potensi penghematan biaya. Anda bisa menghitung sendiri dengan Kalkulator Komisi Swivel berapa banyak komisi marketplace yang bisa Anda hemat per bulan dengan mengalihkan sebagian pesanan ke website Anda. Misalnya, untuk merchant dengan AOV Rp 95.000 dan migrasi 10% pesanan ke website, penghematan komisi bisa mencapai ~Rp 4 juta per bulan (~Rp 48 juta/tahun).
Dengan Swivel, Anda tidak hanya mendapatkan fitur loyalitas, tetapi juga built-in payment, analytics canggih (segmentasi RFM, deteksi churn), dan campaign engine untuk email/WhatsApp marketing. Ini berarti Anda bisa membangun hubungan yang lebih kuat dengan pelanggan, mengurangi ketergantungan pada marketplace, dan mengamankan margin keuntungan yang lebih baik.
Kesimpulannya, meskipun marketplace menawarkan kemudahan akses pasar, ketergantungan penuh pada platform ini telah menghilangkan beberapa keuntungan krusial, terutama terkait margin keuntungan, kontrol data pelanggan, dan pengembangan branding. Untuk bisnis yang ingin tumbuh berkelanjutan dan mengurangi biaya komisi yang terus membengkak, membangun kanal penjualan langsung dan mengintegrasikannya dengan program loyalitas seperti Swivel adalah langkah strategis yang tidak bisa diabaikan. Hitung Penghematan Biaya Marketplace Anda Sekarang → dan mulailah membangun kemandirian bisnis Anda.


